Ibadah Senin 13 Februari 2017

Tema khotbah : bersyukur dalam menghadapi tantangan hidup
Mazmur 27:1-6
Pdt. Prasetyawan koesworo, M.Si (GKJ Salatiga Selatan)

Rasa bersyukur seseorang bisa timbul karena berbagai hal. Namun dalam kitab pemazmur mengatakan bahwa bersyukur karena pemeliharaan Allah. Sebuah lagu menyebutkan “Tuhan tidak pernah menjanjikan langit yang cerah namun, Ia selalu beserta”. Tuhan menjanjikan pertolongannya meskipun engkau terjatuh maka tidak sampai tergeletak. Penyertaan Tuhan inilah yang membuat pemazmur dalam ayatnya 27-1-6 mengungkapkan rasa syukurnya.
Namun dalam kehidupan ini ada juga berbagai hal yang membuat manusia tidak bisa bersyukur. Yang pertama adalah orang tersebut menganggap suatu hal yang Ia terima adalah sudah ‘sepantasnya’ anggapan inilah yang membuat seseorang tidak bersyukur karena Ia menilai apa yang telah Ia dapat itu merupakan hal wajar dan sudah sepantasnya. Kedua adalah, fokus kita adalah hanya pada keinginan kita, dan bukan pada apa yang telah kita miliki saat ini. Ketiga, karena kita kerap membandng-bandingkan diri dengan orang lain.
Daud adalah orang yang melekat di hati Allah, dan Ia menjadikan Allah sebagai kota bentengnya. Dengan Iman dan ketaatan Daud ini, menjadikan Tuhan berkenan kepadanya.
Hendaknya kehidupan orang kristen yang mengaku percaya pada Yesus memiliki hati yang bersyukur seperti seorang pemazmur ini. Menyaksikan kemurahan Tuhan dan tetap teguh dalam berbagai tantangan dan pencobaan.

Ibadah Senin 23 Januari 2017

Yesaya 43:1-7

Hidup yang bersyukur adalah salah satu karakter yang harus ada di dalam diri orang percaya, 1 tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Melalui ayat tersebut kita dapatmelihat bahwa memang hidup ini harus selalu ditetapkan dalam rasa syukur dalam segala situasi dan kondisi yang sedang kita alami saat ini, suka ataupun duka, seharusnya ini menjadi identitas dan karakter dari orang percaya. Bukan hanya bisadan baru dapat bersyukur ketika kita berkelimpahan harta dan semua rencana kitaberjalan dengan baik dan lancar, jika kita bersyukur hanya ketika kita mendapatkanhidup yang baik, itu adalah hal yang biasa, yang menjadi luar biasa dan menjadi orangKristen yang berbeda dari orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus

adalah ketika kita bisa menikmati semuanya dengan rasa syukur, namun sayangnyasikap hidup yang sedemikian rupa seringkali hanya menjadi ide, pemikiran bahkan hanya pengetahuan semata-mata. Mengapa? Yang membuat kita sulit untuk bersyukur

adalah hasrat dan keinginan yang masih berkuasa di dalam diri kita, sehingga ketika

keinginan tersebut tidak tercapai, nikmat dan kehidupan ini tidak diletakkan di dalam

rasa syukur yang ada hanya keluh kesah. darimana hasrat itu muncul? Salah satunya

dari pikiran kita, ketika pikiran kita masih dlam keliaran-keliaran yang melekat pada

dunia ini, itu adalah salah satu sumber dari ketidakbahagiaan, padahal salah satu

tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk bahagia, dan di dalam kebahagiaan itu ada

sikap hidup yang bersyukur, bisa kita mulai dengan mengelola pikiran kita dengan baik,

tidak melekatkan pikiran dengan dunia ini tetapi meletakkannya di dalam terang kasih

Tuhan . Tema “bersyukur atas panggilannya”, ketika kita menyambut panggilan Nya, itu

bukan perkara yang mudah untuk dilakukan karna di dalam setiap panggilanNya bukan

hanya terdapat sukacita tetapi juga terdapat penderitaan-penderitaan yang harus siap

kita terima. Melalui bacaan hari ini, kita memperoleh kekuatan akan setiap panggilan-

panggilan yang Tuhan berikan kepada kita yaitu ketika pikiran kita selalu menyadari

untuk melihat bahwa dalam setiap apapun yang terjadi dalam panggilanNya, pasti ada Tuhan yang beserta dengan kita karna dia adalah Tuhan yang sudah menebus dan memilih bahkan akan tetap menyertai kita dalam menyambut panggilanNya, mari kita melihat Dia yang telah memberikan hidup kepada kita dan yang memberikan panggilan kepada kita, ayat yang indah dalam Yesaya 43:4 “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu”. Artinya dalam setiap panggilan nya kepada kita Tuhan hendak memberikan kasihnya kepada kita, sehingga dengan demikian kita tetap bisa bersyukur dalam setiap panggilan-Nya walau tidak mudah untuk kita lakukan.

Ibadah Senin 28 November 2016

HIDUP MEMBEBASKAN ORANG LAIN
(LUKAS 10:25-37)
Pembawa Firman :Pdt. Tuhoni Telaumbanua, Ph.D
Petugas :YPTKSW

Hormat akan Tuhan didasarkan akan pengakuan bahwa Yahwa sang Khalik, Yahwe adalah sumber hikmat, sumber pembebasan dan pemberi damai sejahtera. Hormat akan Tuhan berarti memenuhhi cintakasih kepada Yahwe yang terimplementasi dalam cintakasih terhadap sesama manusia. Hormat akan Tuhan adalah menyatunya kata da perbuatan dalam seluruh aspek hidup dan itulah spiritualitas dan integritas UKSW yang dirancang para pendiri, ini adalah dasar membangun pendidikan yang membebaskan itu, tapi masih perlu dipertanyakan masih berlanjutkah ini?
Dalam perenungan, aspek hormat atau mengasihi Tuhan ditampilkan dalam perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Pertanyaan yang mencuat adalah bagaimana memperoleh hidup yang kekal dan siapakah sesamaku? Orang Samaria mempunyai satu halyang tidak dimiliki orang farisi yaitu hal mengasihi atau cinta kasih yan keluar dari lubuk hati yang suci dan terdalam atau yang biasa dikenal dengan empati dan simpati.
Dengan menghadirkan empati dalam sikap seseorang bukan hanya memunculkan kebaikan namun akan muncul empaty yang liberty,empaty yang menghasilkan pembebasan. Membebaskan tanpa pamrih, tanpa memandang muka, atau tanpa membeda-bedakan dengan alasan SARA, tanpa dskriminasi namun kasih bagi semua orang.
Kasih yang mengharagai keberagaman agama, keberagaman kepercayaan, keberagaman suku, bahkan identitas gender dan lain-lain, mengasihi semuanya karena hormat dan mengasihi akan Allah.
Panggilan membebaskan menjadi refleksi bagi UKSW dalam ulang tahun ke 60, oleh karena itu ada 3 hal yang menjadi penting dan direnungkan. Yang pertama, kita dipanggil agar dalam seluruh aktivitas Satya Wacana hendaknya dijalankan dengan menghidupi hormat dan kasih kepada Tuhan sehingga dapat membebaskan orang lain. Yang kedua, kita dipanggil untuk terus mewujudkan hormat dan cinta kasih kepada Tuhan dengan menjadi pembebas bagi sesama dalam dunia pendidikan dan yang ketiga, perlu direnungkan apakah ungkapan yang sangat dikenal dari kampus kita creative minority dan sering disebut Indonesia mini apakah itu masih nampak sampai sekarang?

Ibadah Senin 21 November 2016

Ibadah senin, 21 November 2016

“Hidup Menjadi Berkat”
Matius 5:13-16

Pengkhotbah : Pdt. Rudiyanto, M.Th. (Fak. Teologi)

Petugas : PD Mabasa UKSW

Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan tentang garam dan terang dunia kepada banyak pengikut dan murid-muridnya. Hal ini ia tunjukkan kepada para pengikutnya (baca khotbah di bukit) yaitu kepada orang-orang yang setia melayani, yang miskin di hadapan Allah, yang lemah lembut, yang rendah hati, orang-orang yang berbelas kasih, yang membawa damai, yang dianiaya oleh sebab kebenaran dan dsb.
Mereka inilah yang dimaksud oleh Yesus sebagai “garam dan terang bagi dunia”. Hal ini juga Yesus sampaikan sebagai sebuah penyataan sekaligus sebuah jati diri bagi pengikutnya yang memiliki ciri-ciri di atas.
Namun diayat selanjutnya Tuhan Yesus memperingatkan, jika garam itu menjadi tawar dalam arti tak berfungsi lagi maka berhati-hatilah. Kehidupan yang baik jangan menjadi kendor. Sifat ilahi yang terdapat dalam diri manusia itu jangan menjadi tawar atau tak berarti lagi.
Orang yang mengupayakan keadilan dan kedamaian serta menjalankan tanggung jawab masing-masing tetaplah berjuang, maju dan konsisten. Tetap menjalankan misi Allah dalam kehidupan kita dan untuk dunia ini.
Ayat 15 dikatakan, “lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu diletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu”. Artinya adalah tidak malu menjadi terang dan bersaksi karena Tuhan.
Jangan malu dan jangan menutupi terang dalam dirimu. Jangan menyembunyikan jati diri kita sebagai terang dan saksi-saksi Allah. Hidup menjadi berkat berarti bersaksi memperjuangkan keadilan, perdamaian dan konsisten pada jati diri tanpa menutup-nutupinya. Selamat menjalani minggu penuh berkat Tuhan Yesus memberkati

Kebaktian ini ditutup oleh Vocal Group GMKI cabang Salatiga dengan lagu “Kaulah Yang Pertama”

Ibadah Senin 14 November 2016

Ibadah Senin 14 November 2016

Tema : Mengalahkan Dunia

Ayat: 1 Yohanes 5:1-5

Pembawa Firman : Pdt. Cindy Quartyamina, MA (Fakultas Teologi UKSW)

Petugas : Panitia Natal UKSW 2016

Lagu “Semua Baik” ini kita pasti yakin pernah mendengar atau bahkan yakin pernah menyanyikannya dalam berbagai kesempatan. Lagu yang berjudul “Semua Baik” ini bisa dikatakan istimewa karena diantara lagu rohani Kristen populer di Indonesia, lagu “Semua Baik” inilah yang telah diterjemahkan kedalam 5 sampai 7 bahasa asing oleh karena itu capaian penjualan lagu ini cukup fantastis. Disamping laris manisnya lagu ini ada situasi yang tak kalah istimewa yaitu kisah dibalik terciptanya lagu “Semua Baik. Sosok Budi Haryanto yang mengarang semua lirik dan sebagian besar irama lagu “Semua Baik”, sosok ini telah meninggal 16 tahun yang lalu. Tahun 1991 Budi Haryanto mulai berproses untuk menciptakan, untuk mengarang kata demi kata yang kemudian menjadi lirik lagu “Semua Baik”. Kalau kita cermati lirik lagu “Semua Baik” mempunyai aura sangat positif, yang ketika dihayati secara mendalam bisa memberi kekuatan bagi pribadi yang mendengarkannya. Kata demi kata di lagu ini nyatanya tidak dikarang oleh Budi tidak dalam hidupnya sedang baik, justru kata demi kata dalam lirik ini dikarang dalam keadaan hidupnya sedang sangat terpuruk. Keterpurukan berupa penyakit komplikasi yang tiap harinya semakin parah sehingga selama 9 tahun Budi berjuang untuk tetap bisa menghayati kebaikan. Dan yang menarik pada saat itulah ketika ia sudah mulai tidak berdaya, istrinya mencari pekerjaan yang sayangnya pekerjaan tersebut didapat di Solo yang sehingga Budi dalam keadaan sudah tidak berdaya praktis menjalani hari-harinya dalam keadaan tanpa istri. Budi dan anaknya tinggal di Temanggung, dalam keadaan tidak berdaya Budi tidak mendapat sosok yang selalu sedia mendampingi dirinya. Hanya ada 1 anak laki-laki semata wayang, tetapi anak ini berkebutuhan khusus praktis Budi tidak dapat menuntut banyak dari sang anak. Bisa dibayangkan betapa benar-benar pedihnya keadaan yang dialami Budi, tetapi yang istimewa ketika keadaan hidupnya sudah tidak baik ia mampu mengarang kata demi kata yang pernyataan iman. Pernyataan iman yang lantang dikatakan bahwa dari semula apapun yang dia alami ada dalam rancangan yang indah, dari semua apapun dalam keadaan hidupnya semua baik adanya. Tubuhnya merosot tetapi keadaan imannya tidak terkikis sedikit pun. Berbicara perihal iman yang tidak terkikis, kita menjumpai bahwa ada iman yang berakar kuat pada pribadi. Iman yang justru memampukan Budi menang menghadapi dunia dalam keadaan tidak menguntungkan pada saat itu. Berbicara lebih lanjut mengenai iman yang mengalahkan dunia, maka ini juga yang tegas disampaikan dalam bacaan 1 Yohanes 5: 1-5. Kalau kita mencermati pada ayat 4 dan 5, jelas disana ditegaskan perihal Iman yang berkemenangan, pertanyaannya kenapa Rasul Yohanes sebagai penulis merasa penting memberi penegasan tentang iman yang berkemenangan. Kalau kita membaca secara seksama ayat 1 sampai 5 dan menghayatinya, kita akan menjumpai bahwa apa yang ditegaskan perihal iman yang mengalahkan dunia sesungguhnya suatu upaya mengokohkan iman jemaat pada saat itu, pertanyaannya ada apa dengan iman jemaat pada saat itu? Kalau kita melihat ayat 1, terdapat informasi disana bahwa Rasul Yohanes menjumpai kemerosotan iman, gejala yang mulai meragukan ke-Tuhanan Yesus Kristus pada kehidupan masing-masing umat. Lebih lanjut gejala ini seolah-olah mendapat pembenaran dalam keseharian perilaku jemaat Kristen, perilaku yang jelas-jelas melenceng dari ketetapan perintah Allah. Apa yang menyebabkan terjadinya gejala kemerosotan iman jemaat Kristen pada saat itu? Kalau kita mundur sejenak mencermati pasal 1 sampai 4 pada surat 1 Yohanes dan kita beranjak maju meneruskan pengamatan kita pada surat 2 dan 3 Yohanes, akan mendapat pandangan lebih utuh bahwa gejala kemerosotan iman jemaat sebagian besar dipengaruhi oleh paham atau filosofi hidup pada saat itu. Pada saat itu terdapat paham mengenai pemisahan secara tegas antara roh dan tubuh. Tubuh diyakini hakikatnya jahat, sehingga kalau manusia terlibat suatu kejahatan itu bukan suatu masalah. Sebaliknya roh dasarnya baik, sehingga setiap manusia memiliki gerakan dalam dirinya terlibat dalam keyakinan ritus-ritus tertentu. Selanjutnya paham ini juga menguraikan bahwa Yesus bisa diragukan kebenarannya, kalau Yesus benar-benar Tuhan ia tidak sempat mengalami kelemahan-kelemahan. Pada konsep ini, Tuhan ialah sesuatu yang luhur yang sehingga jika Yesus ialah Tuhan tidak mungkin mengalami penganiayaan. Paham inilah yang dilihat Rasul Yohanes sebagai penyebab merosotnya iman jemaat pada saat itu, jemaat tetap aktif pada kegiatan keagamaan tapi pada saat bersamaan terindikasi hidup dalam rupa-rupa kecemaran, kesombongan, mereka melakukan tindakan jahat, menindas sesamanya. Seolah-olah dalam diri jemaat yang terpengaruh oleh ajaran ini turut mengamini bahwa berbuat sesuatu yang salah wajar adanya. Dalam keadaan seperti ini seolah-olah iman sedang dikalahkan oleh dunia pada saat itu. Yohanes menemui jemaat saat itu hidup selayaknya budak yang terbelenggu oleh pengaruh dunia yang bertentangan dengan kebenaran Allah, dan untuk mengatasi hal ini Yohanes memberi penegasan pada ayat 4 dan 5 bahwa berbagai macam godaan dunia sejatinya dapat dikalahkan oleh umat yang memelihara pengenalan intim pada siapa Tuhan yang ia sembah. Dari uraian tersebut, apa kaitannya dengan kehidupan masa kini? Apa pesan yang bisa kita terapkan pada kehidupan kita masing-masing? Pada kenyataanya kita dikehidupan sehari-hari dihadapkan oleh pengaruh yang berujung pada keterpisahan dengan prinsip kebenaran Allah. Bisa jadi kita sedang dikelilingi rupa godaan yang membuat kita bisa berpikir mengikuti godaan tersebut. sebagai pendidik, sebagai pengajar, sebagai dosen bisa jadi kita sedang mendidik tanpa ketulusan, sekedar untuk menyelesaikan jadwal yang sudah dibuat, bisa jadi kita melahirkan karya akademis tanpa keluhuran, tanpa kejujuran. Atau bahkan sebagai mahasiswa kita terpengaruh dengan gaya hidup yang tidak jujur dalam menyelesaikan tiap tugas dan seterusnya. Disamping godaan tersebut, masing-masing kita dihadapkan oleh tantangan yang sering kali datang menghampiri. Tetapi disinilah relevansi firman Tuhan memberi penyadaran dan kekuatan bagi kita bahwa diatas persoalan hidup yang membuat hidup seakan tidak berdaya, kita dijanjikanNya bisa mengalahkan persoalan tersebut hanya apabila kita memelihara pengetahuan tentang siapa sosok Tuhan yang kita sembah. Menang kalah dalam menghadapi persoalan adalah mengenai sebagaimana kita kuat membentengi diri dari pengaruh dunia yang sesat. Hanya beriman pada Allah kita bisa menjadi pemenang, bisa menaklukkan  godaan itu dan tetap hidup dalam perintah kebenaran Allah. Melalui iman yang kokoh, kita juga dijanjikan pembebasan yang dialami seperti Kristus.  Meskipun fisik dihadapkan dengan keadaan tidak menyenangkan, meskipun hari-hari kita dihadapkan dengan godaan pada saat itulah jiwa kita dibebaskan dari belenggu-belenggu dan kita mengalami kedamaian sejati. Pada akhirnya selamat hidup bekemenangan pengenalan yang utuh tentang siapa kita dengan Tuhan. Tuhan memberkati, Amin.

Ibadah Senin 7 November 2016

Jangan Menyiakan Keselamatan
Ayat: Ibrani 2 : 1-4
Pembicara: Prasetyawan Kusworo (GKJ Salatiga Selatan)
Petugas : Rektorat UKSW dengan Campus Ministry

Pernahkah bapak ibu saudara mengenal kembali mengapa isteri/suami/pacarmu mencintaimu? Pernahkah bapak ibu Kristen berpikir sudah selamat ? Mari kita lihat keselamatan yang besar yang terdapat pada perikop. Mengapa? Perikop ini sungguh diperhatikan jangan dipandang sebelah mata karena ada sesuatu yang besar.
Upah dosa adalah maut. Oleh karena itu, orang-orang tidak akan lepas dari dosa, kecuali kalau ada orang yg menolong. Keselamatan ini merupakan sesuatu yang besar dan anugrah yang besar yang memiliki. Kita sebagai orang Kristen tidak sadar kalau Kristen kita hanya sebagai rutinitas saja. Kita mendapatkan anugrah mendapatkan keselamatan dan tidak mati kekal.
Dalam perjalanan keselamatan ini/kehidupan ini, ditengah-tengah ada sebuah percobaan sampai garis akhir. Penyelamatan Allah harus kita hargai Karena:

Allah menyelamatkan kita karena kasihnya
Allah ingin mengembalikan hubungan yang benar.
Penyelesaian hukuman dilakukan oleh Allah sendiri

Masihkah kita mau menyiakan cintanya Allah kepada kita? Yang harus kita lakukan adalah mensyukuri anugrah Tuhan yang kita terima. Supaya kita tidak menyia-nyiakan keselamatan. Kita harus mensyukurinya setiap menit dan setiap detik. Jangan sia-siakan kesempatan yang Tuhan Berikan. Amin.

Ibadah Senin 24 Oktober 2016

Ibadah Senin 24 Oktober 2016
Tema : Karya Pemulihan Allah
Ayat: Nehemia 13: 15-17
Pembicara : PDT. Sri Bangun Wismono (GKJ Salatiga Timur)
Petugas : Fakultas Biologi UKSW

Karya pemulihan Allah yang tidak lepas dari tema tahunan UKSW, Tahun Yobel Tahun Pembebasan.Ketika Allah memberikan ruang untuk bebas dan bertanggung jawab. Sehingga nilai kebebasan yang sungguh-sungguh menghayati kehidupan Tuhan dan kehendak Allah.
Nehemia adalah seorang arsitek yang prinsipnya berdoa dan bekerja. Di dalam nilai kerja ada doa begitu juga sebaliknya. Disini nehemia terkhusus membahas tentang tembok-tembok di Yerusalem. Menjadi keprihatinan dan mendukung semangat praktis dalam tindakan (…) Selain itu, Nehemia mencurahkan tenaganya untuk pemerintahan sipil di Yerusalem.
Hal ini menjadi perhatian bagi UKSW bagaimana satu sama lain saling memotivasi dalam semangat rohani dan pekerja karena itu sebagai salah satu penopang kehidupan UKSW. Kita belajar dari nehemia adanya keprihatinan yang mendalam akan kemurnian ibadah dan rasial “umat Israel”. Beberapa langkah nehemia
Nehemia menetapkan kembali persepuluhan untuk menyokong para imam dan orang lewi. Karena ketika nehemia telah selesai dengan pekerjaanya, bahwa terjadi kemandekan kerohanian di kompromikan oleh Pihak Lain dalam arti Bangsa Amon digunakan salah satu bagian bait Allah untuk kegunaan yang berbeda. 12 Tahun keadaan kacau kembali. Yang Kedua, Pengawasan yang lebih teliti terhadap kegiatan pada hari sabat. Pada ayat 15-17 pada saat itu kondisi hari sabat itu dilanggar. Bait Allah hanya sebagai tontonan saja. Yang ketiga Mencela semua pernikahan orang yahudi dengan “kafir” mereka. Yang keempat Melaksanakan semua hal yang benar, karena salah satu hikmat agar Allah senantiasa menjaga bangsa Israel. Tuhan akan memilih dan memberkati bangsa Israel agar Setia kepada Tuhan. Sehingga, Pemulihan Allah nyata dalam sosok pribadi Nehemia
Pertanyaan : Mengapa Allah serba Maha masih mau melibatkan manusia?? Karena Allah menghendaki manusia tidak hanya menjadi penonton melainkan pelaku. Sehingga Nehemia menginsipirasi kita . Dengan cara ketekunan untuk berdoa kepada Tuhan. Agar Tuhan dapat memahami kita mampu untuk melakukan pekerjaan itu ataupun tidak.
Tuhan tidak akan melakukan sendiri, Allah tidak ingin Egois, Allah ingin kita semua menjadi pemulih-pemulih untuk sesama kita. Dengan demikian kemuliaan Allah menjadi nyata.

Ibadah, Senin 17 Oktober 2016

Ibadah Senin 17 Oktober

Tema : Hidup Sebagai Orang Benar  Sebagai Bukti Pendamaian Dengan Allah

Pembicara:Pdt. Yohanes Boanergis (GKJ Tuntang Barat)

Petugas: Tim Campus Ministry 2016

Ayat: Ayub 29:14-20

Hari ini kita akan merenungkan dari kitab Ayub. Apakah ada dari kita yang memiliki kesalehan melebihi Ayub? Ayub adalah orang yang begitu saleh di mata Ayub. Renungan yang kita baca hari ini adalah menceritakan tentang kemuliaan yang Tuhan Allah berikan untuk Ayub, sehingga kehidupan Ayub banyak mengeluarkan buah yang baik. Ayub dipakai Tuhan untuk menjadi mata bagi orang buta, menjadi kaki bagi orang lumpuh, menjadi bapa bagi orang miskin, untuk membela perkara orang yang benar dan lemah.

 Tuhan pada hari ini memerintahkan kepada bapak/ibu dan saya, agar kita mengeluarkan buah yang baik. Seperti tema tahunan kita, “Tahun Yobel, Tahun Pembebasan”. Yang menjadi jiwa kita, adalah Allah memberikan Kasih Karunia, bukan karena kita layak untuk menerima, tapi karena Ia mengasihi kita, maka Ia membebaskan kita dari segala bentuk ikatan, apakah itu ikatan kuasa dosa, tabiat buruk, yang selama ini mengikat kita, Kristus Yesus telah membebaskan kita, maka hidup kita telah dimerdekakan.

Ijinkan Tuhan untuk memerintah atas hidupmu sehingga kelemahanmu tidak akan berkuasa atas hidupmu dan Kristus yang ada di dalam kita, dan terpenuhilah janji Tuhan, “..apa yang kamu minta dalam nama Tuhan Yesus, Tuhan Yesus akan melakukan bagianNya” dan engkau akan dipakai Tuhan untuk melakukan perkara-perkara yang besar yang Tuhan Yesus telah kerjakan. Di dalam dan melalui kita, yaitu memberikan penglihatan, membebaskan yang tertawan, dan memberitkan tahun rahmat Tuhan telah datang. Ini adalah pewahyuan dari Tuhan kepada UKSW, sehingga “Tahun Yobel, Tahun Pembebasan“ sungguh-sungguh dinyatakan, dihidupi dalam setiap karakter takut akan Tuhan. Kita haruslah sungguh-sungguh menghayati dan merindukan adanya kasih karunia yang diberikan kepada umat.

Akhir-akhir ini banyak sekali hal-hal yang menghambat didalam kehidupan anak-anak Tuhan. Sehingga semangat persekutuan yang ada di tengah-tengah persekutuan gereja, yang disebut gereja adalah kehidupan bersama religious yang berpusat kepada karya keselamatan Kristus. Bagaimana dalam kehidupan yang terpusat kepada Kristus di sana kita melupakan akan tugas panggilan kita sebagai orang percaya.

Tema kami dari sinode GKJ  sepanjang kemarin itu tentang “Uang”. Karena akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang. Karena bagaimana mungkin orang bisa menjadi bapa bagi orang miskin apabila ia cinta akan uang? Bagaimana mungkin ia menjadi kaki bagi orang lumpuh, dan mata bagi orang buta? Maka disini Tuhan memanggil kita dan memberikan kita sebuah rahasia agar hidup kita dapat diberkati, yaitu dengan “Melekat Kepada Tuhan Yesus”. Sama seperti Mzm 1: 1-2 yang hatinya senantiasa merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, ia akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang daunnya tetap hijau, yang menghasilkan buah tepat pada waktunya, dan apapun yang ia kerjakan menjadi berhasil.

Saya berdoa, apa yang dikerjakan UKSW selalu berhasil, diberi keberuntungan oleh Tuhan, selalu diberkati dengan mahasiswa. Gereja mula-mula semakin tumbuh berkembang, semakin dikasihi Tuhan dan sesama, karena kehidupan gereja mula2 ada dalam persekutuan dengan Allah dan sesama secara benar. Baiklah kita menghidupi persekutuan itu di tengah kehidupan keseharian kita. Melekat kepada Tuhan, inilah yang menjadikan kita diberi kasih karunia sama seperti sabda Yesus, diluar Aku, kamu tidak dapat melakukan apa-apa. Apabila kita melekat kepada Yesus, maka disana kekudusanNya akan menyertai kita, dan dosa-dosa kita akan kita tinggalkan, kita dapat hidup baru, dan kita disebut sebagai Orang Yang Benar.

Universitas Kristen Satya Wacana